TANGERANG | MITRA BANTEN NEWS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui pengembangan budidaya kangkung dengan metode hidroponik, Jumat (6/3/2026).
Program ini menjadi bagian dari upaya Lapas dalam menghadirkan kegiatan pembinaan yang produktif sekaligus meningkatkan keterampilan warga binaan. Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di lingkungan lapas.
Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, mengatakan pengembangan budidaya hidroponik merupakan langkah adaptasi terhadap kendala yang dihadapi pada metode pertanian sebelumnya.
Ia menjelaskan, pada periode panen bulan lalu, budidaya tanaman dengan media tanah mengalami kegagalan hingga hampir 80 persen dari total hasil yang ditargetkan. Hal tersebut dipengaruhi oleh tingginya intensitas curah hujan yang menyebabkan tanaman tidak berkembang optimal.
“Budidaya hidroponik ini kami kembangkan sebagai solusi untuk memanfaatkan lahan terbatas sekaligus mengantisipasi kendala akibat curah hujan tinggi. Selain mendukung ketahanan pangan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran keterampilan bagi warga binaan sebagai bekal setelah mereka kembali ke masyarakat,” ujar Beni.
Metode hidroponik dinilai lebih efektif karena tidak bergantung pada media tanah serta lebih mudah dikontrol dalam proses pemeliharaannya. Sistem ini juga memungkinkan pemanfaatan lahan terbatas secara lebih optimal sehingga tetap dapat menghasilkan tanaman yang produktif.
Program tersebut dilaksanakan di bawah koordinasi Seksi Bimbingan Kerja Lapas Kelas I Tangerang dengan melibatkan warga binaan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari penyemaian benih, pemeliharaan tanaman, hingga proses panen.
Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Aris Supriyadi, menuturkan bahwa program hidroponik tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran pertanian modern bagi warga binaan.
“Kami mendorong warga binaan memahami seluruh proses budidaya.
Dengan keterlibatan langsung pada setiap tahapan, mereka diharapkan memperoleh keterampilan yang bisa dimanfaatkan setelah selesai menjalani masa pembinaan, khususnya untuk mengembangkan usaha pertanian skala kecil,” kata Aris.
Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari program budidaya hidroponik.
“Kami belajar mulai dari penyemaian, pengaturan nutrisi hingga perawatan tanaman. Metode ini sangat bermanfaat karena bisa dilakukan meski dengan lahan terbatas. Harapannya nanti bisa kami terapkan setelah bebas,” ujar warga binaan yang meminta namanya disamarkan.
Melalui pengembangan budidaya kangkung hidroponik ini, Lapas Kelas I Tangerang berharap program pembinaan yang dijalankan dapat semakin adaptif, produktif, serta memberikan manfaat nyata bagi warga binaan dan lingkungan lapas. (Anas)

























































































